Aksi Nyata Modul 1.4

Penerapan Budaya Positif dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas melalui Keyakinan Kelas

oleh Titin Sumarni-SMP Negeri 2 Turi

CGP Angkatan 3 Kabupaten Sleman


A.     Latar belakang

     Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran di kelas sangat ditentukan oleh lingkungan belajar di kelas. Dalam menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah tempat bersemainya benih-benih kebudayaan. Seorang pendidik diibaratkan sebagai seorang petani dan murid sebagai benih tanaman. Untuk mendapatkan hasil tanaman yang optimal, benih tersebut perlu diberikan perlakuan agar dapat berkembang  dengan baik. Tanaman tersebut memerlukan air, pupuk, cahaya dan bebas dari gangguan hama. Demikian juga dalam pendidikan, untuk bisa menuntun anak mewujudkan cita-citanya, seorang pendidik harus merawat, mengarahkan, membimbing anak sesuai kodrat alam dan kodrat jamannya. Lingkungan kelas yang baik, nyaman, dan menyenangkan akan mendukung tumbuh kembangnya bakat dan minat anak. Sehingga diperlukan adanya budaya positif dalam menunjang pembelajaran di kelas.

    Saat ini, ketika sekolah telah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) dimana mekasimal 50% murid belajar di sekolah dan sisanya belajar di rumah secara daring, sebagian murid kurang aktif dalam pembelajaran dilihat dari kehadiran dalam pembelajaran. Sebagian murid terlambat masuk dalam pembelajaran daring dan belum mengumpulkan tugas-tugasnya. Dalam pembelajaran luring di sekolah sebagian murid besar murid kurang berinteraksi dengan guru dan teman-temannya.   


B.     Tujuan

         1.    Membiasakan budaya positif di sekolah

         2.    Murid mengikuti pembelajaran dengan aman, nyaman dan bahagia 


C.     Langkah tindakan 

        Untuk mewujudkan budaya positif di sekolah, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi tentang budaya positif di sekolah kepada rekan guru. Sebelum melakukan sosialisasi, saya berkoordinasi dengan Kepala Sekolah untuk menentukan waktu dan tempat sosialisasi. Pada kegiatan sosialisasi, saya menyampaikan pengimbasan tentang garis besar materi modul 1.4 dan rancangan aksi nyata yang akan dilakukan. 

      Saya juga menyampaikan tentang keyakinan kelas kepada murid di kelas VIII D dan orang tua/wali.  Selanjutnya saya melaksanakan pembentukan keyakinan kelas dimulai dengan kegiatan curah pendapat murid tentang kelas impian mereka melalui grup WA. Hasil curah pendapat mereka, kemudian saya rangkum dan disampaikan ke kembali ke murid dan orang tua untuk ditanggapi kembali. Sebagian murid menambahkan pendapat mereka melalui grup WA. 


     Langkah berikutnya setelah terbentuk kesepakatan tentang kelas impian, saya mengajak anak untuk menentukan keyakinan kelas dari kesepakatan kelas yang telah mereka buat melalui google meet. Moda daring dipilih karena harapannya bisa bertemu dengan semua murid satu kelas, sehingga proses ini bisa diikuti oleh semua warga kelas.


        Setelah terbentuk keyakinan kelas, guru menyampaikan hasil tersebut ke semua warga kelas dan orang tua/wali. Dengan sering mengingatkan adanya keyakinan kelas ini, diharapkan anak akan memiliki budaya positif di kelas dan akan selalu diterapkan dalam kehidupannya. 

          Pelaksanaan keyakinan kelas tidak selalu berjalan sesuai harapan, bebrapa anak masih terlambat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, khususnya secara daring. Untuk mengatasi hal ini guru menerapkan peran sebagai manajer dan memberikan resitusi kepada anak. Pemberian restitusi diharapkan memberikan penguatan kepada anak akan pentingnya melaksanakan keyakinan kelas, bukan menyakiti atau memaksa. Selanjutnya anak akan belajar dari kesalahan mereka dan berusaha mencari solusi dari masalah mereka. Ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya.

               Hasil penerapan budaya positif melalui keyakinan kelas di kelas VIII D, murid lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran, terlihat dari peningkatan interaksi murid PTMT maupun BDR. Pengumpulan tugas-tugas secara daring juga mengalami peningkatan. Murid yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan atau keyakinan kelas diberikan restitusi, sehingga anak tidak merasa tersakiti namun akan memiliki kesadaran diri untuk berubah.

            Agar pelaksanaan budaya positif dapat berjalan terus diperlukan dukungan dari Kepala Sekolah, guru/karyawan, wali kelas, BK, orang tua, dan Komite Sekolah. 



Posting Komentar

1 Komentar

  1. Luar biasa bunda Titin, karya yang sangat menginspirasi kita semua. Bahwa penanaman budaya positif dalam pembelajaran Tatap muka terbatas sudah berjalan dengan lancar.

    BalasHapus