Menurut Ki Hadjar Dewantara, tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat anak untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan yang setingi-tingginya. Dalam tujuan ini tersirat bahwa tugas seorang penndidik adalah menuntun, artinya pendidik tidak bisa memaksakan atau mengekang, tetapi dengan cara membimbing dan mendampingi seorang murid dengan selalu memperhatikan karakteristik murid. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam diri setiap anak terdapat keunikan. Menurut Ki Hadjar Dewantara, seorang anak bukanlah seperti kertas kosong yang bebas diwarnai oleh guru. Ia diibaratkan sebagai kertas yang telah memiliki goresan-goresan warna.
Apabila diibaratkan bahwa pendidik adalah seorang petani dan anak merupakan benih tumbuhan yang akan disemai, maka petani tidak bisa memaksakan benih jagung akan tumbuh menjadi padi. Cara merawat setiap benih pun tidak bisa diseragamkan. Ia memiliki keunikan sendiri-sendiri.
Dalam pendidikan yang memerdekakan ini, sebagai pendidik kita berperan menuntun, artinya guru berperan sebagai fasilitator yang mengakomodir berbagai karakteristik anak. Dengan demikian pembelajaran akan berpusat pada murid. pembelajaran seperti ini akan menciptakan lingkungan belajar yang membuat murid merasa nyaman dan bahagia.
Seorang guru berpihak/menghamba kepada anak berarti memberikan pelayanan yang optimal bagi tumbuh kembang anak, dengan mempertimbangkan segala hal yang mendukung dalam memfasilitasi dan memotivasi proses anak membangun pengetahuan, keterampilan dan sikapnya. Proses pembelajaran yang dilakukan harus berpusat pada murid, bukan guru. pendidik harus memahami murid dari segala aspeknya. Pendidik berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi dan menuntun tumbuh kembangnya potensi murid.
Pembelajaran yang berpusat pada murid akan membentuk karakter-karakter positif pada murid, seperti berpikir kritis, kolaborasi (gotong-royong), dan kemampuan berkomunikasi. Karakter-karakter tersebut selaras dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila.
Budi pekerti merupakan perpaduan antara Cipta (kognitif), Karsa (afektif) sehingga menciptakan Karya (psikomotor). Keluarga merupakan tempat yang utama dan paling baik untuk melatih pendidikan sosial dan karakter baik bagi seorang anak. Keluarga juga menjadi ruang untuk mempersiapkan hidup anak dalam bermasyarakat dibanding dengan pusat pendidikan lainnya. Alam keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan teladan, tuntunan, pengajaran dari orang tua. Keluarga juga dapat menjadi tempat untuk berinteraksi sosial antara kakak dan adik sehingga kemandirian dapat tercipta karena anak-anak saling belajar antar satu dengan yang lain dalam menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu, Peran orang tua sebagai guru, penuntun dan pemberi teladan menjadi sangat penting dalam pertumbuhan karakter baik anak.
Untuk mengetahui karakteristik murid, pendidik bisa melakukan asesmen awal terlebih dahulu. Dari asesmen ini akan diketahui karakter dan kebutuhan murid yang bisa digunakan untuk melakukan pembelajaran berdiferensiasi. Selaian itu prndidik bisa melakukan kesepakatan kelas terlebih dahulu dan diakhiri dengan kegiatan refleksi.

0 Komentar